8 ciri yang menyatakan tingginya nilai SQ seseorang
27-09-2007
Cukup menarik juga untuk diketahui kalau Cherian P.
Tekkeveettil, melalui penelitiannya, mengemukakan
delapan ciri yang menyatakan tingginya nilai
Intelijensia Spiritual (SQ) seseorang. Mereka adalah:
1.Keluwesan;2.Kesadaran-diri;3.Kemampuan di dalam menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
hidup;
4.Kemampuan untuk terinspirasikan oleh suatu penampakan
atau visi;
5.Kemampuan untuk melihat hubungan di antara hal-hal
yang (tampak) berlawanan atau kemampuan untuk berpikir holistis;
6.Hasrat yang kuat dan kapasitas untuk sekecil mungkin menjadi
penyebab ¡Æluka¡Ç;
7.Kecendrungan untuk mencermati dan mempertanyakan
pertanyaan-pertanyaan fundamental; dan
8.Kemampuan untuk bekerja melawan konvensi atau bekerja
secara inkonvensional. ¹)
Terlepas dari setuju atau tidaknya kita terhadap ajuan
dari Cherian P. Tekkeveettil ini, rupanya ia
menempatkan kesadaran-diri sebagai salahsatu cirinya.
Dan ini menarik untuk dijadikan perhatian. Walaupun
memang ada orang-orang istimewa yang sudah berbekal
derajat kesadaran-diri tertentu dalam kelahirannya
ini, bagi kebanyakan dari kita, kesadaran-diri tetapmerupakan sesuatu yang perlu dikembangkan secara sadardan sistematis. Kesadaran-diri punya karakteralamiahnya sendiri yang perlu dipahami guna bisamengembangkannya. Dan inilah yang tidak dipahami oleh
semua orang, sehingga tidak semua orang bisamengembangkan keadaran-dirinya secara benar-benarmandiri.
Keluwesan di dalam pergaulan misalnya, bukan sajamerupakan watak bawaan, ia juga bisa dilatihkan,dipelajari. Keluwesan di dalam menerima dan menjadiselaras dengan perubahan-perubahan yang terjadi secaratiba-tiba baik di lingkungan alam maupun sosial,memang memberi banyak manfaat besar secara mental dandi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dan agaknya,walaupun ada, tidaklah banyak orang yang memang punya
watak demikian. Ia lebih merupakan keterampilan mental
yang terlatih di dalam interaksi-interaksi kita denganalam maupun dengan orang-orang, disamping pemahaman
yang mendasarinya.
Begitu pula dengan yang ketiga ¡½kemampuan di dalammenghadapi dan memanfaatkan penderitaan hidup. Untuk
mengembangkannya butuh derajat intelijensia (IQ dan
EQ) tersendiri, yang umumnya juga merupakan bakatbawaan.
Ciri empat, lima dan tujuh, walaupun bisa, agaknyakecil kemungkinannya untuk mengembangkannya sampaibatas-batas optimal hanya di dalam kehidupan ini,mengingat mereka lebih merupakan bakat bawaan. Berbeda
dengan ciri enam dan delapan. Dengan menyebut ciri
delapan sebagai ¡Ækemampuan untuk bekerja melawan
konvensi atau bekerja secara inkonvensional¡Ç, ia jadimengesankan ¡Æsikap memberontak¡Ç. Oleh karenanya,
kendati mengandung substansi yang sama, akan jauh
lebih netral dengan meyebutnya sebagai ¡Ækemampuan
untuk bekerja secara inovatif¡Ç.
Secara keseluruhan, kedelapan ciri yang diajukan itu
tampak lebih menjurus pada bakat kelahiran di dalamspiritualitas. Artinya, betapa berbakatpun seseorang,kalau bakat itu tidak dikembangkannya lewat cara-carayang tepat, tetap saja ia tertinggal sebagai bakat,
sebagai potensi yang tak pernah benar-benar memberinya
manfaat.
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/143_508_2007_09